Buka

Rabu, 01 April 2009

Kubangan Situ Gintung Mengandung Racun

Senin, 30 Maret 2009 06:53 WIB


TEMPO Interaktif, Tangerang: Kubangan Situ Gintung yang jebol Jumat pekan lalu diteliti mengandung racun. Menurut Dr. Erry Hayatullah al-Rasyid, Pengkaji Komunitas Rajut Ilmu Cendekia (RIC) di Karawaci, Tangerang, mengatakan warna kuning air dan pada bagian bawah yang bercampur tanah menjadi pekat hitam itu memuat kandungan racun.

“Itu merupakan kubangan racun seluruh Jakarta, apalagi daerah situ adalah
pemukiman padat penduduk,” kata Ery dalam sebuah kajian RIC di Karawaci. Menurut dia, air warna kuning dan di bawah yang berwarna hitam itu sangat lengket. “Coba ambil lumpur itu dan genggam, silakan bilas tangan Anda dengan sabun, lengketnya tidak langsung hilang,” kata Ery.

Ey tak menjelaskan jenis racum dalam kubangan situ. Ia masih mengkaji lebih jauh. Selain lumpur, kata dia lagi, di bawah terdapat celah gorong-gorong yang terbuka. Jebolnya tanggul itu sangat dahsyat, karena mempu membuat mobil tersangkut pohon. "Bisa dihitung berapa kecepatan air per kilometernya saat tanggul jebol."

Danau alam seperti Situ Gintung, menurut Ery, tidak hanya menampung air hujan, tapi juga sumber air. Karena sumber airnya sangat besar, maka dipilih oleh Belanda pada 1933 sebagai 'surga' Batavia masa itu.

Akibat tanggul jebol, hampir 100 orang ditemukan meninggal. Sisanya, lebih dari 100 orang masih dalam pencarian. Adapun warga yang mengungsi karena kehilangan tempat tinggal mencapai 600 orang. Mereka menjadi korban saat tertidur ketika tanggul Situ Gintung di Cireunde, Ciputat, Tangerang, itu ebol pada subuh.

AYU CIPTA

Pemanasan Global

Kompas, Rabu 28 Januari 2009

Butuh 350 Miliar Euro untuk Tahan Laju hingga 2 Derajat Celcius


BRUSSELS, SELASA - Upaya dunia memerangi pemanasan global membutuhkan dana sekitar 350 miliar euro per tahun. Dana sebesar itu diperlukan untuk mempertahankan kenaikan suhu bumi dibawah 2 derajat Celcius hinggga tahun 2030. Demikian paparan dari perusahaan konsultan McKinsey, Senin (26/1) di Brussels, Belgia.

"Dunia mampu mengurangi emisi gas rumah kaca hingga 70 persen pada tahun 2030," bunyi salah satu kesimpulan dari paparan tersebut. Namun, itu hanya bisa tercapai bila, "Harus sesegera mungkin dilakukan aksi lintas sektor secara global."

Kisaran biaya tersebut, yaitu 200 miliar euro-350 miliar euro per tahun saat ini. Jumlah ini ekuivalen dengan 1 persen pendapatan domestik bruto secara global pada tahun 2030. McKinsey menambahkan, estimasi tersebut adalah berdasarkan asumsi yang optimistis.

Investasi total yang dibutuhkan untuk membatasi kenaikan suhu bumi global akan meningkat dari tahun ke tahun seiring dengan bertambahnya populasi dan ekspansi ekonomi global. Menurut Per-Anders Enkvist, salah satu penyusun laporan tersebut, jumlah investasi dapat mencapai 810 miliar euro pada 2030.

Laporan McKinsey mendesak dilakukan aksi segera. "Penundaan setiap tahun akan menambah tantangan, bukan hanya karena emisi yang terus meningkat, melainkan karena akan menyebabkan ekonomi biaya tinggi untuk karbon," tulisnya.

Akhir tahun 2009 akan dilakukan pertemuan internasional yang dikoordinasi Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahaan Iklim (UNFCC) guna menetapkan kesepakatan internasional yang baru tentang bagaimana mengurangi emisi gas rumah kaca dan menahan pemanasan global sampai 2 derajat Celsius. Aksi itu untuk menghindari kerusakan lingkungan yang tak dapat dikembalikan lagi (irreversible environmental damages).

Uni Eropa akan memimpin pertemuan akhir tahun di Kopenhagen, Denmark. Semua negara anggotanya yang berjumlah 27 telah sepakat memotong emisi karbon dioksida sebanyak 20 persen. (AP/ISW)